SEKILAS INFO
  • 1 tahun yang lalu / Telah rilis website resmi dari Masjid Darussalam Bendorangkang, akses informasi dan kegiatan terkini semakin mudah.
WAKTU :

4 Sebab Rusaknya Hati

Terbit 22 April 2020 | Oleh : Fikky Frediandika | Kategori : Artikel / Berita
4 Sebab Rusaknya Hati

Nabi Muhammad ﷺ mengatakan bahwa terdapat segumpal daging di dalam tubuh manusia yang disebut dengan hati. Jika segumpal daging tersebut baik,  maka baiklah seluruh tubuh kita. Sebaliknya, jika segumpal daging itu rusak maka rusak pula seluruh tubuh kita. Hal ini diriwayatkan dalam hadis berikut.

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Berdasarkan hadits di atas, baik-buruknya perilaku dan amal perbuatan ditentukan pula oleh baik dan buruknya hati. Sehingga kita perlu untuk menjaga hati agar tetap jernih, dan tidak teracuni.

Berikut adalah 4 hal yang menyebabkan rusaknya hati menurut para ulama. 

Banyak Bicara

Nabi Muhammad ﷺ mengatakan, “Siapa saja yang banyak bicaranya maka banyak kesalahannya. Siapa yang banyak kesalahannya, maka sedikit wara’-nya. Siapa saja yang sedikit wara-nya, maka mati hatinya. Siapa saja yang mati hatinya, maka Allah haramkan surga untuknya.” 

Nabi Isa ‘alaihissalam juga pernah berpesan, “Sedikitlah bicara kecuali dengan berdzikir. Sebab, banyak bicara hanya akan mengeraskan hati.”
Banyak bicara yang dimaksud di sini adalah bicara tanpa makna atau sekedar omong kosong atau bualan saja. Namun jika bicara dengan maksud baik dan memberi manfaat serta hikmah tentunya hal ini juga dianjurkan oleh Nabi Muhammad ﷺ, sebagaimana dalam sebuah hadis berikut.
“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka katakanlah yang baik-baik atau diam,” (HR Malik). (Lihat: Ibnu Abi ‘Ashim, al-Zuhd, Daru al-Rayyan: Kairo], 1408 H, hal. 38).

Banyak Makan

Selain banyak bicara, banyak makan juga ternyata bisa merusak atau meracuni hati. Apalagi yang dimakan adalah makanan yang haram. Para ulama mengatakan, di antara perkara yang dibenci adalah penuhnya perut dengan perkara halal. Artinya, kondisi perut yang penuh walopun dengan yang halal pun sudah kurang baik, apalagi jika terisi makanan yang haram. Salah satu larangan untuk memenuhi perut dipesankan oleh Luqman al-Hakim kepada putranya, “Wahai anakku, jika perutmu penuh, maka pikiranmu akan tidur, hikmah jadi tertutup, dan anggota tubuh akan lemah dibawa ibadah.”

Seorang ahli hikmah juga mengatakan, “Siapa saja yang banyak makannya, pasti banyak minumnya. Siapa saja yang banyak minumnya, pasti banyak tidurnya. Siapa saja yang banyak tidurnya, pasti banyak dagingnya (gemuk). Siapa saja yang banyak dagingnya, pasti keras hatinya. Siapa saja yang keras hatinya, maka ia akan tenggelam dalam kubangan dosa.”
Ahli hikmah lain mengatakan, “Siapa yang banyak kenyang di dunia, maka ia akan banyak lapar di akhirat.”

Nabi Muhammad ﷺ mengatakan, perut bukanlah wadah yang siap diisi dengan apa saja yang menjadi keinginan kita. Perut hanya bisa diisi secukupnya dan tidak boleh berlebihan karena perut mempunyai batas kemampuan. Hal ini dijelaskan dalam hadits, “Keturunan Adam tidak dianggap menjadikan perutnya sebagai wadah yang buruk jika memenuhinya dengan beberapa suap yang dapat menegakkan tubuhnya. Karena itu, apa yang dia harus lakukan adalah sepertiga perutnya untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk nafas,” (HR Ahmad).

Bergaul dengan Orang yang Buruk Akhlak

Jika iman masih lemah, disarankan untuk tidak bergaul dengan orang yang buruk akhlaknya karena bisa jadi kita akan terpengaruh oleh akhlak buruk tersebut. Lain halnya jika iman sudah kuat dan yakin tidak akan terpengaruh, dengan niat untuk memperbaiki akhlak orang tersebut, maka hal demikian tidaklah mengapa.
Nabi Muhammad ﷺ mengatakan, “Sesungguhnya engkau akan dikumpulkan bersama orang-orang yang engkau cintai.” Jika kita mencintai orang-orang saleh maka kelak kita akan dikumpulkan pula dengan orang-orang saleh. Begitu juga sebaliknya.

Luqman al-Hakim pernah berpesan kepada putranya, “Bergaullah dengan orang-orang saleh hamba Allah. Sebab, dari kebaikan-kebaikan mereka, engkau akan mendapatkan kebaikan. Boleh jadi, di akhir pergaulan dengan mereka, rahmat akan turun. Dan engkau mendapat rahmat itu bersama mereka. Wahai anakku, janganlah engkau bergaul dengan orang-orang buruk. Sebab, dengan bergaul dengan mereka, engkau tidak akan mendapat kebaikan. Boleh jadi di akhir pergaulan dengan mereka, siksaan turun kepada mereka. Dan engkau tertimpa siksaan itu bersama mereka.” (Ahmad ibn Hanbal, al-Zuhd, (Darul Kutub al-‘Ilmiyyah: Beirut], 1999, hal. 87).   

Dengan bergaul dengan orang-orang saleh, kita berharap juga akan menjadi orang saleh. Dan beruntunglah kita jika menjadi seorang yang saleh, sesuai dengan janji Allah, “Aku berjanji kepada hamba-hamba-Ku yang saleh dengan sesuatu yang belum pernah terlihat mata, belum pernah terdengar oleh telinga mana pun, dan belum pernah terbesit dalam hati siapa pun.” Demikian janji Allah kepada orang-orang saleh dalam salah satu hadits qudsi. Bergaul dengan orang-orang saleh dan menjauhi orang-orang yang buruk akhlak ini untuk menjaga agar hati tetap jernih.

Banyak Memandang

Pangkal dari segala keburukan adalah banyak memandang. Walaupun tidak seluruhnya, namun pada umumnya berbagai keburukan dan kejahatan seperti perzinaan, perkosaan, pencurian, pembunuhan, dan sebagainya, baik secara langsung ataupun tidak langsung, dimulai dari pandangan. Apalagi di zaman serba modern seperti saat ini, segala informasi dan gambar apa saja mudah diakses. Pandangan-pandangan buruk itulah yang menyebabkan hati menjadi kotor. Hati yang sudah kotor menimbulkan kemalasan, kekikiran, niatan-niatan jahat, kesombongan, sikap keras menerima nasihat, dan jauh dari kebaikan.

Maka dari itu, menjaga pandangan sangatlah penting. Allah memerintahkan secara langsung di dalam Al-Quran, sebagaimana ayat berikut, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat’,” (QS al-Nur [24]: 30).

Perintah menjaga pandangan tidak hanya dikhususkan untuk laki-laki tetapi juga untuk wanita, sebagaimana firman Allah, “Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya’,” (QS al-Nur [24]: 31).

Walaupun konteks ayat di atas adalah menjaga pandangan dari aurat, namun alangkah lebih baik jika diterapkan terhadap hal-hal negatif yang dapat melahirkan rasa iri, dengki, panas hati, mengundang syahwat, dan hal buruk lainnya yang menjadikan hati menjadi rusak.

Bagikan :
SebelumnyaJelang Ramadhan, LDNU Jombang Siapkan Program Konsultasi Online SesudahnyaAwal Mula Jamaah Ider Li Khomsatun di Dusun Bendorangkang

Berita Lainnya

3 Komentar

Imronjonggrong, Rabu, 22 Apr 2020

Mantab

Balas

    Jamal, Kamis, 23 Apr 2020

    Alhamdulillah…
    Matur Suwon…

    Balas

Alimusa, Kamis, 23 Apr 2020

Alhamdulillah

Balas

Tinggalkan Balasan ke Imronjonggrong Batalkan balasan